Aku sudah "lupa" badai terberat yang pernah kulalui.
Bukan karena tak pernah melalui kesulitan, melainkan karena sekarang, setelah melaluinya, badai-badai itu tidak seseram yang aku ingat. Jadi aku bingung, harus menulis tentang yang mana.
Mungkin, itu ketika mendengar orang tuaku ingin berpisah. Mungkin ketika ekonomi keluarga sedang sulit. Mungkin ketika bapak ku sempat koma. Mungkin ketika aku kehilangan satu persatu org yg aku sayangi. Mungkin ketika bapak ku meninggal. Mungkin ketika momment jatuh, diinjak lalu dicabik2. Mungkin ketika ditusuk oleh org yg paling aku percayai. Mungkin ketika ditipu dan membuat kehilangan banyak hal. Mungkin saat aku berpisah dgn seseorang yg aku yakini akan menjadi rumah. Mungkin ketika terkekang oleh pandemi ini.
Mungkin sebagian badai terlihat lebih remeh dari yang lain. Namun percayalah, saat mengalaminya, semua sama: seperti tak ada jalan keluarnya. Kadang, memang demikian. Tak ada jalan keluar. Tak jarang, walaupun aku berusaha sekuat tenaga, bukan solusi yang kudapat, hanya lelah. Aku mempelajari bahwa kadang, yang perlu (atau hal terbaik yang bisa) kulakukan hanya bertahan.
Iya, bertahan.
Mungkin bertahan dengan sembunyi dalam selimut, atau melindungi diri di balik tembok kokoh, apapun definisi "bertahan" itu.
Kadang kalut kacau seperti mau meledak tapi itu hanya sesaat. Karena sudah pernah melewatinya beberapa kali, di saat-saat terberat sekalipun, aku selalu percaya: badai pasti berlalu. Tidak membuat masalah jadi lebih ringan, sih. Tapi setidaknya membantu kita tak berputus asa.
Jadi, bertahan, ya 🤗.